Solo Trip ke Yogyakarta via Semarang & Solo (Hari ke 2)

Hai dear!

Yuk kita lanjut experience-ku solo trip ke Yogyakarta hari ke-2!

Dihari kedua ini, alhamdulillah Yogyakarta (tepatnya Jl. Kaliurang Km.5) terpantau cerah, soalnya semalam hujan gerimis gitu. Pastinya mood langsung bagus dong kalau lagi liburan cuacanya mendukung. Semalam aku diajak temanku untuk ke destinasi wisata Kali Talang yang terletak di Klaten, Jawa Tengah. Gila nggak tuh, udah jauh ke Yogyakarya mainnya ke Klaten. Karena aku memang nggak ada jadwal meeting dan kelas aku iyain aja malam itu. Jam 09.00 aku check-out Artotel Yogyakarta dan karena barang bawaanku cukup banyak, akhirnya aku titip bagpack disitu, surprisingly boleh loh walaupun udah check-out. Aku menunggu dijemput oleh temanku tersebut, dan Dia juga bersama tiga orang teman se-perkuliahannya.



Tepat jam 10.00 kami berangkat menuju destinasi kami, cerah mendung cuaca silih berganti sembari angin khas dataran tinggi menemani kami dalam perjalanan kali ini. Padahal hari itu bukan akhir pekan, namun namanya Yogyakarta sebagai destinasi favorit kedua turis domestik setelah Bali pasti ramai wisatawannya. Banyak bus-bus besar berlalu-lalang melewati Jl. Kaliurang itu yang entah menuju kemana, karena diatas banyak sekali destinasi yang ada kaitannya dengan Gunung Merapi, selengkapnya kalian biasa cari di Google dengan keyword "wisata disekitar Gunung Merapi".

Pejalanan kali ini cukup jauh karena melewati hutan dan lembah dengan pemandangan yang indah disertai udara sejuk dan keramahan warga lokalnya. Jalannya naik turun dan berkelok, hingga sudah mendekati destinasi yang kami tuju, kondisi jalannya kurang baik bahkan tidak beraspal sama sekali. Setelah hampir satu jam setengah perjalanan, kami sampai di Ekowisata Kali Talang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Badan terasa capek dan pegal, namun harus tetap semangat karena tujuannya memang akan berwisata.

Tiket masuk ke Ekowisata Kali Talang ini sekitar Rp. 5.000 sudah termasuk retribusi parkir yang dijaga oleh warga sekitar. Memang tempat parkirnya sederhana, namun bisa dibilang aman, disekitar tempat parkir terdapat beberapa warung kecil yang menyediakan minuman dan makanan seperti mie instan dan sebagainya dengan harga yang masih cukup wajar ditempat wisata. Dari tempat parkir motor, kami berjalan sekitar 5-10 menit mendaki melewati area Ekowisata Kali Talang yang mirip dengan savana namun naik turun tanahnya. 

Banyak sekali monyet-monyet liar yang saling bersahutan di area tersebut, karena kami takut terjadi hal lain, kami mempercepat perjalanan menuju ke arah yang bisa dibilang gardu pandang atau spot foto. Dan perlu diingat, saat di Kali Talang tidak ada sinyal atau jika beruntung bisa ada namun tiba-tiba hilang. 



Karena kami lupa membeli air minum saat dibawah tadi, alhasil kami kehausan dan tidak ada sumber mata air satupun. Sebab Kali Talang ini bukanlah kali atau sungai yang ada airnya, namun Kali Talang ini tempat aliran lahar saat Gunung Merapi meletus beberapa tahun silam. Dan letak Kali Talang ini dibawah, jadi kami harus turun sekitar 10-15 meter dengan kondisi tanah berbatu dan licin. Memang cuaca di Kali Talang sangat panas, namun anginnya sejuk yang membuat aku lupa memakai sunblock alhasil kedua tanganku belang.

Gagahnya Gunung Merapi sangat terlihat jelas dari kejauhan, kami mencoba mendekat setelah menuruni jalan yang tidak rata itu, namun Gunung Merapi justru tertutup awan padahal cuaca cerah sekali. Kami melihat beberapa warga lokal yang membawa ranting kayu dipunggungnya dari atas gunung menuju ke bawah, dan ternyata itu memang mata pencaharian mereka. Jujur, ini Kali Talang kalau kami sedikit lebih pagi akan terlihat sangat jelas dengan mata telanjang gagahnya Gunung Merapi.


Setelah puas diarea bawah, kami kembali ke atas untuk menuju gazebo. Gazebo ini fasilitas istirahat yang disediakan pengelola Ekowisata Kali Talang, dan juga adanya ayunan untuk berfoto, namun tetap hati-hati dengan barang bawaan mengingat banyak monyet liar. Di gazebo kami beristirahat sebentar, lalu menuju ke warung untuk membeli sebotol air. Kami juga berbincang sebentar dengan pemilik warung yang sudah lanjut usia.

Dirasa istirahat kami cukup, kami memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta, perlu diingat Kali Talang ini lokasinya di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, jadi siapkan sepeda motor dengan kondisi prima dan kesehatan yang baik. Diperjalanan kami ke Artotel lagi karena akan mengambil tas aku, kemudian kami ingin mencari yang segar-segar ditengah teriknya matahari siang itu. Namun kami bingung, dan akhirnya memutuskan untuk ke warung batagor dan es campur dekat Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito atau bisa dibilang didalam komplek Universitas Gadjah Mada. Rasanya enak dan harganya cukup murah, namun karena saat itu aku kelaparan, jadi tidak terdokumentasikan.

Selepas menyantap makanan, aku dan temanku berpisah dari rombongan karena akan berpindah ke hotel selanjutnya, yaitu Royal Malioboro by Aston yang berada di Jl. Pasar Kembang atau dekat dengan Stasiun Yogyakarta. Royal Malioboro ini salah satu hotel bintang 4 yang ada di Yogyakarta, dimana dikelola oleh jaringan Aston. Sayangnya, kolam renang hotel ini masih berbarengan dengan Hotel Neo Malioboro by Aston yang berada persis disebelahnya, karena pembangunan di Royal Maliobo untuk fasilitas tersebut masih dalam pengerjaan.

Hampir seharian berada dijalan raya membuat aku merasa lelah, akhirnya aku memutuskan untuk bersih-bersih badan setelah itu beristirahat dikasur yang super empuk dan nyaman dengan fasilitas smart tv. Ini yang aku incar, karena tidak semua hotel menyediakan smart tv, namun hanya tv kabel atau parabola biasa.



Singkat cerita, aku bangun ba'da maghrib karena memang pada hari itu sangat melelahkan. Aku bergegas mandi dan kemudian beribadah, setelah itu aku menyantap makan malam dihotel yang aku pesan lewat ojek online, yaitu pecel lele, namanya Yogyakarta apa-apa serba murah, pecel lele yang aku pesan cuma seharga Rp. 12.000 dengan porsi nasi bisa dibilang jumbo dan rasanya enak.

Karena malam itu aku menginap di Royal Malioboro by Aston, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi ke jalan yang sangat legendaris, yaitu Jalan Malioboro, memang hanya beberapa ratus meter dari hotel yang aku inapi, namun karena tujuanku tidak hanya ke Malioboro, aku dan temanku memutuskan untuk sekalian menaiki sepeda motor yang kemudian akan dititipkan ditempat parkir.

Sampainya di Jalan Malioboro, kami menitipkan motor dengan tarif Rp. 5.000. Kemudian kami berjalan menyusuri jalanan tersebut dengan santai karena per awal Ferbruari semua pedagang kaki lima dipindahkan ke Teras Malioboro 1 dan 2 yang dimana lokasinya masih disepanjang Jalan Malioboro. Jadi, benar-benar sepi tanpa pedagang kaki lima.




Setelah puas kami menyusuri Jalan Malioboro, kami memutuskan untuk menuju Teras Malioboro, yaitu tempat dimana pedagang kaki lima di Jalan Malioboro kini berjualan. Semuanya lengkap dari pakaian hingga aksesoris dilengkapi dengan eskalator dan lift juga karena kalau tidak salah ada 3 lantai di Teras Malioboro ini.



Karena tidak ada barang yang kami beli di Teras Malioboro, lantas kami mengambil sepeda motor yang dititipkan tadi, untuk menuju ke Alun-alun Kidul. Lokasinya tidak begitu jauh dari Malioboro hanya sekitar 10 menit estimasi waktunya.


Di Alun-alun Kidul kami membeli beberapa cemilan street food yang tersedia disana dan harganya masih terjangkau untuk mahasiswa seperti kami ini. Ramainya Alun-alun Kidul bukan main, seperti tidak ada pandemi atau pembatasan-pembatasan lainnya. Setelah itu kami bergegas kembali ke hotel karena hari sudah larut malam.

Kita sambung di hari ke 3 ya dear...!

BestRegards
Rafid's

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Game Favorit

Greeting Introduction